Kronikanews.id, BANDA ACEH — Tim Pengabdian Masyarakat Internasional Inbound 2026 dari Universitas Syiah Kuala (USK) melakukan kunjungan strategis ke Sekolah Luar Biasa Bagian B (SLBB) YPAC yang terletak di Gampong Keuramat, Banda Aceh. Kunjungan lapangan ini menjadi tonggak awal keterlibatan aktif kelompok disabilitas dalam memperkuat ekosistem industri kreatif pariwisata daerah.
Program pengabdian berskala internasional yang mengangkat tema Inclusion In Tourism : Empowering Disabled Youth For Creative Entrepreneurship In Lubok Sukon Cultural Village diketuai oleh Dr. Irin Caisarina, M.T, M.Sc, dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) USK. Dalam pelaksanaannya, ia didampingi oleh tim ahli multidisiplin yang terdiri atas Zulfikar Taqiuddin, S.Sn, M.T. (Prodi Arsitektur USK, Ir.. Nora Abdullah, S.T., M.Eng.Sc., IPM. (Prodi Teknik Sipil USK), dan Hilda Mufiaty, S.T, MBEnv. (Prodi Arsitektur USK). Kehadiran tim gabungan ini bertujuan memetakan potensi sekaligus mentransfer pengetahuan desain global langsung ke lingkungan sekolah khusus.
Menurut Dr. Irin Caisarina, program ini dirancang untuk untuk menciptakan ekosistem pariwisata inklusif di Desa Wisata Budaya Lubok Sukon Kabupaten Aceh Besar, melalui pemberdayaan pemuda disabilitas dari SLB B YPAC dan pemuda Karang Taruna Gampong Lubok Sukon sebagai aktor ekonomi kreatif. Meskipun memiliki potensi budaya yang besar, aksesibilitas ekonomi bagi kelompok disablitas di wilayah ini masih sangat terbatas akibat rendahnya penyerapan tenaga kerja disabilitas dan kurangnya inovasi produk yang berstandar pasar global. Melalui pendekatan Collaborative and Inclusive Participatory Action Research (CIPAR), kegiatan ini mengintegrasikan kepakaran lintas disiplin dari Universitas Syiah Kuala dengan mitra internasional dari Chulalangkorn University Thailand.
Eksplorasi Motif Aceh Bersama Siswa
Sesi perkenalan program dan penyampaian detail implementasi di lapangan dipandu
langsung oleh Zulfikar Taqiuddin, M.T. Pada kesempatan tersebut, Zulfikar mengajak
murid-murid SLBB YPAC untuk terlibat aktif dalam sebuah sesi kreatif, yakni membuat
gambar ornamen tradisional Aceh.
Gambar dan guratan sketsa yang dihasilkan oleh para siswa ini bukan sekadar aktivitas
kelas biasa, melainkan diposisikan sebagai dasar eksplorasi bentuk (base design) untuk
pengembangan produk cinderamata eksklusif. Langkah ini bertujuan memunculkan karakter
lokal yang kuat pada produk yang akan diproduksi.
Dari interaksi intensif
tersebut, tim USK berhasil mengidentifikasi tiga keahlian utama yang sangat potensial
dari siswa-siswi SLBB YPAC Gampong Keuramat, yaitu menjahit, membatik, serta melukis
atau membuat sketsa. Ketiga potensi dasar inilah yang akan dijadikan modal utama dalam
proses produksi kriya terstruktur ke depan.
Supervisi Global Chulalongkorn University
Setelah pola dasar ornamen berhasil dihimpun oleh tim USK, fase pengembangan
produk berikutnya akan dilakukan di bawah supervisi langsung dari Dr. Saranya dan Tim
Pakar dari Chulalongkorn University, Thailand. Melalui metode modern, karya mentah
para siswa diintegrasikan menjadi produk komunitas (community product) bernilai
ekonomi tinggi, seperti produk dekorasi rumah (home decor) dan pernak-pernik
pariwisata kelas premium.
Kolaborasi ini diharapkan melahirkan sebuah ekosistem hulu-hilir industri kreatif yang
mandiri. Pola kolaborasi ini menempatkan siswa disabilitas sebagai kreator utama di
bagian hulu, sementara jaringan kemitraan universitas bertindak sebagai jembatan
kualitas di bagian tengah.
Menuju Gampong Wisata Lubok Sukon Hilir dari seluruh
rantai produksi kreatif ini bermuara di Gampong Lubok Sukon, Aceh Besar. Produk
suvenir unggulan pariwisata yang telah melalui kurasi standar global tersebut nantinya
akan dipasarkan secara resmi di gerai khusus di Gampong Lubok Sukon.
Sinergi lintas sektoral ini menjadi bentuk kontribusi nyata dunia akademik
internasional dalam mendukung akselerasi Gampong Lubok Sukon sebagai Gampong Wisata
andalan di Aceh. Melalui integrasi kemampuan siswa SLBB YPAC Gampong Keuramat,
pariwisata Aceh Besar tidak hanya menjual keindahan alam dan sejarah, namun juga
menghidupkan ruang ekonomi yang inklusif, setara, dan berdaya saing global.
Program
Community Development International Inbound ini terlaksana atas dukungan pendanaan
dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains,
dan Teknologi melalui Program EQUITY Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.



