Dua jembatan vital di Provinsi Aceh yang sempat rusak akibat banjir tbandang kini kembali berfungsi. Rampungnya pemulihan jembatan tersebut membuat arus logistik dan mobilitas masyarakat di sejumlah wilayah Aceh kembali normal setelah sebelumnya terhambat.
Jembatan pertama yang telah beroperasi kembali adalah Jembatan Bailey Krueng Tingkeum di Kabupaten Bireuen. Jembatan ini menghubungkan jalur nasional Banda Aceh-Medan yang terputus akibat banjir bandang pada 27 November 2025.
Pembangunan jembatan darurat sepanjang lebih dari 60 meter tersebut diselesaikan dalam
waktu 18 hari dan memiliki kapasitas hingga 30 ton, sehingga dapat dilalui kendaraan
roda dua hingga truk logistik.
Pemulihan jembatan tersebut dilaksanakan melalui
sinergi lintas sektor antara Kementerian Pekerjaan Umum, PT Adhi Karya (Persero) Tbk,
unsur TNI AD, serta mitra konstruksi lokal. Kehadiran jembatan ini menjadi penghubung
utama distribusi barang dan kebutuhan pokok bagi masyarakat Bireuen dan kabupaten
sekitarnya.
Direktur Utama ADHI Moeharmein Zein Chaniago mengatakan akses infrastruktur merupakan pondasi pemulihan, karena ketika jalan dan jembatan kembali berfungsi, distribusi bantuan, aktivitas ekonomi, dan layanan publik dapat bergerak bersamaan.
“Percepatan pemulihan dilakukan sebagai bagian dari tanggung jawab perseroan dalam
menjalankan penugasan negara,” kata Zein dalam keterangan tertulis, Kamis
(22/01/26)
Selain di Bireuen, pemulihan infrastruktur juga dilakukan di Kabupaten
Pidie Jaya. Jembatan Krueng Meureudu yang menghubungkan lintas timur Aceh kini kembali
fungsional setelah penanganan darurat diselesaikan pada 12 Desember 2025.
Beroperasinya kembali jembatan ini memperlancar arus transportasi antarwilayah yang
sebelumnya terhambat pascabencana.
Tidak hanya membangun jembatan, upaya
pemulihan juga dilakukan melalui mobilisasi alat berat ke sejumlah titik kritis di
Aceh sejak akhir November 2025. Excavator dan dump truck dikerahkan ke wilayah Aceh
Tamiang, ruas Blangkejeren-Kutacane, Bireuen-Takengon, hingga Pidie untuk membuka
akses jalan, membersihkan material longsor, serta menyiapkan infrastruktur darurat.
Pemerintah menegaskan percepatan perbaikan infrastruktur menjadi prioritas utama pascabencana guna memastikan tidak ada wilayah yang terputus dari akses layanan dan distribusi logistik. Dengan kembalinya fungsi jalan dan jembatan, distribusi bantuan, aktivitas ekonomi, serta layanan publik di Aceh diharapkan terus berjalan secara berkelanjutan.



